Mengapa Kebohongan Lebih Cepat Menyebar dari Kebenaran?



Kehadiran medsos pada zaman milenial ini merupakan sebuah konsekuensi logis. Jika ditelisik jauh kebelakang, arus informasi yang berkembang pada jaman dulu, jarang menguak kepermukaan sebab keterbatasan jalur serta frekuensi yang tersaji. Berita yang sedang booming juga harus melewati interval waktu dengan selisih durasi cukup lama. Pada akhirnya media dengan sarana konservatif, perlahan-lahan tertinggal karena tidak mampu memenuhi rasa keingintahuan yang menjadi watak dasar manusia yang memiliki ruang imajinasi tanpa batas.
Sedangkan pada era saat ini, membanjirnya arus informasi dan berita seolah mengendap dalam wadah dengan tampilan kebanyakan berbentuk kotak, yang kerap disebut sebagai smartphone. Tinggal menunggu aksi jemari si-empunya untuk membuka, membacanya, atau langsung saja menyebarkannya. Dengan syarat kuota sebagai penggeraknya tercukupi, semua bisa dilakukan tanpa bersusah payah. Hanya butuh hitungan sepersekian menit dengan kondisi nyaris mendekati realtime pada saat kejadian yang sedang berlangsung.

Sialnya, diantara jutaan informasi yang menyebar dengan cepat, beberapa diantaranya masuk kategori berita bohong atau hoax. Terlepas dari apa motif pelaku pembuat atau penyebarnya, berita bohong jelas merupakan benih penyakit dan bisa menjadi embrio tersulutnya konflik horizontal pada lapisan masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen ini.

Lalu, mengapa berita kebohongan seakan berkelind dan cenderung dianggap sebagai kebenaran? Sehingga opini subyektif terbentuk, dan aksi apapun dianggap mendapatkan legalitas padahal dilahirkan dari rahim serta sumber tak benar? Berikut paparannya:


1. Kebohongan Dikemas Secara Apik dan Diulang-ulang



Kebohongan adalah produk yang bertentangan dengan kebenaran. Setiap individu memiliki potensi yang sama untuk melahirkan kedua produk ini. Berbeda dengan kebenaran, pada proses menjadi kebohongan membutuhkan banyak instrumen sehingga akan terlihat seolah-olah mendekati wujud sempurna, meminimalkan celah, untuk tampak menjadi seolah kebenaran itu sendiri.

Kemasan yang baik menjadi salah satu penunjang kebohongan bertransformasi seakan menjadi kebenaran. Konten dari kebohongan juga dilengkapi dengan bentuk narasi yang menyakinkan. Ditambah pula dengan penyajian data tidak benar yang invalid sebagai penghiasnya.

Tidak berhenti pada kemasan yang baik serta narasi indah, kebenaran mesti dilakukan berulang-ulang sehingga memagari serta menggerus nalar dan membonsai logika. Dengan demikian, terjadi pola doktrinasi secara tak langsung. Pada puncaknya, tujuan pembuat, sekaligus penyebar akan menemui sasaran.

2. Rendahnya Kesadaran Membaca



Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat kurang lebih 90 persen penduduk usia di atas 10 tahun gemar menonton televisi, tetapi tidak suka membaca buku. Sedangkan seperti dilansir dari dunia interneational Unesco, hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang suka membaca. Jika berbicara mengenai kuantitas, sebenarnya banyak literatur bagus mampu dihasilkan oleh penulis-penulis berbakat tanah air.

Fakta rendahnya minat baca masyarakat, memberikan celah bagi manusia celaka pembuat kebohongan. Mereka semakin mudah menyakinkan kepada masyarakat awam bahwa apa yang disampaikan adalah kebenaran.

Padahal, salah satu kiat untuk menguji kesahihan informasi yang dijejalkan, adalah membandingkan dengan informasi lainnya. Dan menuju ke arah tersebut, dibutuhkan pula bacaan sepadan dari sumber yang berbeda. Bila perlu, mengambil pendapat yang bertentangan. Supaya informasi yang sedang tersaji bersifat obyektif sebelum disantap. Dalam dunia jurnalistik, hal ini disebut dengan asas cover both side.

3. Fanatik Buta



Dalam tataran ideal, semestinya berita atau informasi dilihat dari kontennya, bukan pada si pemberi kabar. Namun, terlalu fanatik hanya pada satu sumber berita secara tidak langsung mengesampingkan data lainnya. Sehingga obyektifitasnya perlu dipertanyakan.

Sebagai misal, media televisi atau media lainnya yang telah menjadi dewa bagi satu kelompok, serta merta menjadi rujukan dalam berargumen. Sedangkan sumber lain yang membahas topik serupa dengan sudut pandang berbeda, justru diabaikan apapun informasi yang disuguhkan sebab dianggap kontra dengan afiliasi serta preferensinya.

4. Krisis Kepercayaan



Rasa percaya merupakan fondasi dasar interaksi antar manusia satu dengan lainnya. Andai bersedia jujur, dampak dari pilpres 2014 masih terasa hingga saat ini. Satu pihak yang merasa belum terpuaskan, akan membentuk komunitas sendiri lantas menciptakan polarisasi mendiametral antar golongan.

Kondisi yang carut marut ini, semakin sangat mempermudah gerakan pembuat kebohongan dengan memanfaatkan krisis kepercayaan dari satu kelompok, demi tujuan terselubung. Peran  media abal-abal dan framing atas isu tertentu ditengarahi semakin ikut merusak suasana dan memperuncing masalah.

Dengan demikian, sikap frustasi dari kelompok yang menderita krisis kepercayaan akan digiring untuk menelan mentah-mentah berita dan informasi bohong tanpa menggunakan perangkat penyaring. Dan kondisi tersebut sangat berbahaya bila dibiarkan bebas tanpa ada upaya untuk meredamnya.

Oleh karena itu, jangan biarkan lorong gelap dari sisi kehidupan manusia membuka celah untuk dimasuki dengan berita Hoax. Biasakan menyaring sebelum di-sharing apapun isu yang sedang berkembang.

Yuk rajut kembali semangat kebersamaan diatas perbedaan. Karena Indonesia telah berhasil menyatukan serpihan perbedaan dalam satu kepingan puzzle unik bernama NKRI. Mungkin, ini salah satu keajaiban dunia yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Mari kita jaga bersama sebelum semuanya dihempas oleh sikap egois atas dalih apapun jua.

“Jangan terlalu cepat mempercayai apa yang kamu dengar, karena kebohongan selalu lebih cepat dari kebenaran”

Posting Komentar

0 Komentar